- From: my Mai my Mai, oh give me love
maistyles- Origin: wicked games
-
Apr
05 2013 - Text
CINTA DALAM JARAK
CINTA DALAM JARAK
Ina.
Terlihat seorang gadis remaja duduk bersandar dibawah pohon beringin yang rindang sambil melempar batu-batu kecil ke danau buatan yang berada di taman. Sebut saja taman bintang. Terdengar samar-samar suara gadis itu sedang bersenandung, sepertinya ia sedang bernyanyi. Tak terasa butiran-butiran mutiara yang bening satu persatu menetes kembali dari mata indahnya dan mengalir ke pipi mulusnya. Ia teringat semua kenangan indah bersama kekasihnya dikala SMA. Terdengar bunyi sms yang tak asing bagi gadis ini dari handphonenya. Ia langsung mengusap air mata dari pipinya dan perlahan-lahan terbangun dari tempat duduknya dan berjalan kearah gerbang keluar taman bintang.
Alisa Fika nama gadis itu, mempunyai panggilan Sasa. Salah satu siswa SMA swasta di daerah Jakarta. Sasa sekarang duduk di kelas 3 SMA. Ini hari pertama ia masuk ke kelas barunya. Seperti biasa Sasa sebelum apel berbincang-bincang dengan para sahabatnya.Via, Ashil, Gendis dan Resa. Ia adalah gadis periang dan tak pernah putus asa dalam menghadapi semua masalah apapun, ia tegar dan selalu semangat. Salah satu semangatnya adalah dari kakak kelas yang sekarang sudah menamatkan bangku SMA. Farhan, ia adalah kekasih Sasa. Sudah 1 tahun mereka menjalani hubungan pacaran. Tapi kali ini Farhan harus meninggalkan Indonesia, ia mendapatkan beasiswa kuliah di universitas ternama di Australia. Keadaan ini harus Sasa terima walaupun sebenarnya ia tak mau berpisah dengan Farhan. Sasa ikut mengantar Farhan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Sa, aku akan kembali 3 tahun lagi ke Indonesia.Aku harap kamu bisa menjaga semua perasaanku dan jangan lupa beri aku kabar lewat email, skype dan lainnya. Pasti aku rindu sekali denganmu, Sa.” Ucap Farhan. Sasa hanya bisa terdiam mematung, bayangkan saja wanita mana yang mau berhubungan jarak jauh tanpa ada pertemuan selama 3 tahun. Indonesia-Australia kawan!
“Baiklah, aku akan menunggumu disini. Kamu jaga kesehatan di sana, jangan banyak tingkah. Itu Negara lain, awas saja kalau kamu melirik salah satu wanita di sana. Tak selamatlah kau.” Farhan terkekeh mendengar jawaban dari kekasihnya. Tepat pukul 13.15 pesawat keberangkatan Australia akan berangkat. Sasa terus menahan tangis. Ia tak menyangka, hari ini adalah hari terakhir bertemu langsung dengan Farhan. Pipinya terasa panas, air matanya mengalir deras tatkala menahan sedih, menahan kerinduan terhadap kekasihnya.
“Cie yang udah sehari LDRan, apasih apa LDR?” ah itulah candaan dari sahabat-sahabatnya yang sukses membuat Sasa galau. Perasaan bimbang yang tak menentu. Candaan mereka lenyap begitu saja ketika BK memasuki kelas dan diikuti pria bertubuh tinggi, putih, perawakan asiatis. Sepertinya anak baru pindahan.
“Pagi, nama gue Putra.Gue pindahan dari SMA 2 Bandung. Salam kenal!”
Sepertinya ia akan menjadi teman semeja Sasa. Benar saja, Putra menghampiri dan duduk disamping Sasa. Putra mengajak berkenalan dan Sasa pun membalasnya.
Hari ini Sasa berskype ria dengan kekasihnya nan jauh disana, ‘oh Tuhan aku rindu sekali, cepatkanlah waktu ini agar aku bisa cepat-cepat memeluk dan menghabiskan waktuku bersamanya’ batin Sasa. Farhan pun tak kalah rindunya, ia ingin cepat merampungkan kuliah dan kembali lagi ke Indonesia. Semua kegiatan ia ceritakan padanya Farhan pun sebaliknya. Mulai dari dosen yang dibilang killer dan lain-lain. Kalau menurut Sasa bukan killer, tapi disiplin. Lagi-lagi masalah waktu, ia hari ini ada kelas dan Sasa sudah harus beristirahat menyiapkan tenaga untuk sore ini menemani Putra bermain basket. ‘Tuhan aku masih ingin berdua dengannya walaupun hanya sebatas layar bertemu layar’ pintanya lagi.
Kini waktu terus berlalu, kedekatan Sasa dan Putra semakin terlihat mulai dari mengantar dan menemani Putra bermain basket, pergi ke kantin, dan pulang sekolah bersama. Teman sekelasnya sering menjuluki mereka ‘Di mana ada Sasa disitulah ada Putra’ begitulah kata-kata mereka. Mungkin terdengar sakral di telinga teman dekatnya. Bagaimana tidak, status Sasa sudah tak sendiri lagi. Mereka berusaha untuk selalu bersikap biasa dan memendam semua kecurigaan yang ada dibenak mereka. Seperti saat ini dikelas 3A.6 obrolan-obrolan yang mungkin terdengar menyakitkan ditelinga orang yang sedang diobrolkan.
“Lo ngerasa aneh gak sih sekarang sama Sasa? Pokoknya, semenjak ada Putra dia berubah.” Tanya Via. “Iya juga sih gue ngerasa gitu. Dia kan biasanya galau banget dikelas.” Jawab Gendis. “Apa jangan-jangan mereka pacaran?” Jawab Ashil asal. “Husss, gak boleh gitu lo Shil, gue kenal Sasa. Kita belum tau yang sebenernya kan? Daripada kita nebak yang gak bener mending tanya langsung ke Sasa deh.” Jawab Resa. Memang, wanita yang satu ini selalu berkata bijak dibandingkan teman-temannya.Sebelum kedatangan Putra dalam kehidupan Sasa. Sasa setiap hari terlihat murung, sering diam, dan galau. Semua berlalu begitu cepat, kedatangan Putra membawa keadaan yang berbeda pada diri Sasa. Apa yang terjadi sebenarnya dengan Sasa dan Putra. Entahlah, tetapi ada sesorang nan jauh disana wajahnya terlihat kebingungan.
“Ah! Ini kok gak bisa terus sih, wifinya mungkin lagi jelek kali yah. Tapi kan gue lagi kangen banget sama si Kecil. Gak pengertian banget nih jaringan.” Begitulah keluhan seorang pria yang sedang duduk bersender di koridor gedung sekolahnya sekarang. Siapa lagi kalau bukan Farhan, orang Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Negeri Kanguru. Rasa kangen itu tak bisa dipertahankan hanya dengan cara bertemu dengan pasangannya. Itulah yang sedang dirasakan oleh Farhan.Dia tak lupa mengirim pesan singkat kepada Sasa bahwa dirinya rindu ingin melihat wajah dan mendengar suaranya, tapi balasan Sasa, dia sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Baru kali ini Sasa berbohong, di seberang Sasa sedang menemani Putra yang sedang latihan basket setiap minggu. Farhan memaklumi ia sibuk dan belum bisa menyempatkan waktu sebentar.
“Hai Sa, aku udah selesai nih kita makan dulu ya.” Ajak Putra. Sasa hanya menganggukan kepalanya saja, jauh didalam lubuk hatinya, ia merasakan rindu terhadap kekasihnya. Andaikan pria yang disampingnya ini adalah Farhan pasti ia senang sekali. Rindu dan rindu ketika mereka jalan bersama dipinggiran jalan kota Jakarta menikmati jajanan kaki lima bersama kekasih dan tentu sahabat-sahabatnya. Kangen, rindu, hanya itulah satu kata yang membuat hati tak tenang. Disitulah kita diuji kesabaran dan emosional sesorang. Malam ini kejadian itu terulang, Sasa dan Putra sedang menikmati jajanan kaki lima dipinggiran jalanan kota Jakarta. Ingin semuanya Sasa flashback ke masa lalu itu yang penuh dengan kenangan indah. Hanya dengan melihat wajah Farhan di smartphone yang sedang digenggamnya, rindu yang meluap sejak tadi perlahan mereda. Beberapa bulan ini Sasa dan Farhan sama-sama saling menyibukkan diri, komunikasi tak semulus sebelumnya. Tanpa disadari oleh Sasa, pria yang sekarang dekat dengannya semakin menaruh rasa yang tak biasa.Ia melajukan motor maticnya dengan cepat. Hari ini Putra berniat untuk menjemput Sasa di tempat les kemudian membawanya ke suatu tempat dan juga mengungkapkan segala benak yang terpendam didalam hati. Lebih tepatnya, menyatakan rasa cinta ke Sasa.
“Sa, gue suka sama lo. Gue bener-bener cinta sama lo, pertama gue liat lo gue udah mulai suka sama lo dan gue beruntung bisa deket sama lo sekarang. Would you be my girlfriend?” Ucap Putra sambil berlutut dihadapan Sasa. Sasa terkejut mendengar pengakuan teman sebangkunya ini. Ia bingung seperti ada petir yang menyambarnya. Disisi lain,ia sadar bahwa dirinya sudah dimiliki oleh orang lain. Tapi, disisi lain, ia berfikir ‘apa salahnya gue terima dia sebagai cowok gue, toh Farhan gak tau ini kalo gue pacaran sama Putra, biar gue gak kesepian juga. Dia baik banget terus gue juga kesepian gak ada temen yang asik’ batin Sasa. Dengan segala keberanian, Sasa menerima tawaran Putra untuk menjadi kekasihnya. Bagaimana perasaan Farhan ketika mendengar kabar ini? Tak bisa dibayangkan apabila Farhan mengetahui semua ini, habislah Sasa. Beberapa bulan kemudian semua urusan mulai dari kuliah Farhan semuanya sudah terselesaikan dan hasilnya juga memuaskan. Satu bulan ini ia sudah beberapa kali menghubungi Sasa. Waktu yang telah ditentukan untuk berskype dan online bersama tampaknya sudah ditinggalkan oleh Sasa, Farhan merasa bersalah atas kesalahannya menelantarkan hubungannya akhir-akhir ini dengan Sasa. Ia sudah berusaha menghubungi Sasa lewat email, skype, twitter dan jejaring sosial lainnya, tapi satupun tak ada balasan. Rasa-rasa mulai curiga pun sudah merasuki pikiran Farhan karena Sasa sulit dihubungi. Farhan sudah mencoba menghubungi nomor handphone dan orang-orang terdekat Sasa tapi hasilnya sama sekali tak ada alias nihil. Dan ternyata benar saja apa yang dicurigakan oleh Farhan Sasa berselingkuh dengan Putra dan ini sudah lama terjadi sekitar 6 bulan. Selama 6 bulan ini mereka berdua saling hangout bersama, mulai dari jalan, makan, nonton film bareng semua mereka lakukan hampir setiap minggu. Sasa rapi sekali menyimpan semua rahasia ini dari sahabat-sahabatnya hingga orang terdekat Sasa dirumah.Mereka hanya mengetahui kalau Sasa dan Putra hanya berteman tak lebih. Farhan tinggal menyelesaikan tahap terakhir sebelum ia meninggalkan Australia dan bertemu sang kekasih tercinta. Tepatnya hari Sabtu, Farhan pulang ke Indonesia tanpa memberitahukan Sasa terlebih dahulu, ia hanya mengabari orangtua Sasa dan merencanakan sebuah surprise untuk Sasa. Betapa bahagianya seorang Farhan sudah menamatkan kuliahnya di luar negeri selama 3 tahun dan mendapat gelar sarjana yang ia harapkan dan itu hanya untuk Sasa dan kedua orangtuanya. Bagi Farhan apapun ia akan lakukan hanya demi orang yang ia sayangi.
Pukul 13.50 WIB pesawat Garuda Boeing 737-600 dengan nomor penerbangan GA-726 mendarat mulus di Bandara International Soekarno-Hatta. Selama kurang lebih 7 jam ia duduk dibangku pesawat dengan perasaan gugup dengan wajah gembira akhirnya ia menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya, Indonesia, ia menghampiri kedua orangtuanya dengan perasaaan senang, sedih dan rindu. Dan ia ingin sekali memeluk kekasihnya saat ini juga tapi karena ini demi surprise untuknya. Malam ini ia ingin ke café pertama kali ia kencan dengan Sasa, Idol Café itulah namanya. Ia hanya ingin pergi sendiri tanpa ditemani keluarganya. Perasaan Sasa mulai tak mengenakkan, takut semua kebohongan yang selama ini tersimpan akhirnya terbongkar. Sekecil-kecilnya kebohongan pasti akan diketahui. Seperti hari ini di Idol Café tanpa sengaja Farhan melihat orang yang mirip dengan Sasa, walaupun ia sudah 3 tahun di Australia tapi ia masih ingat bagaimana perwakan kekasihnya itu. Apa yang ia lihat tidaklah semestinya ia lihat, kekasihnya bermesraan dengan orang lain yang tak dikenalnya. Dengan segala keberanian, amarah dan emosi ia mendekatinya, tetapi dilain tempat terlihat seorang perempuan yang geram melihat kemesraan dua anak manusia itu. Ia menghampirinya, dan tiba-tiba…
Byuur. Segelas minuman orange juice membasahi pakaian yang dikenakan Putra. “Kamu jahat banget sih sama aku, dia siapa? Kenapa kamu mesra-mesraan sama dia?” Tanyanya dengan nafas tersengal seperti menahan tangis.Putra hanya diam dan menundukkan kepalanya.
“Kamu siapanya Putra? Putra itu tunanganku!” Tegasnya. Sasa kaget bukan main, sebelum Sasa menjawab datanglah Farhan.“Sa, kamu sedang apa disini? Dia siapa?” Tanya Farhan sambil menunjuk Putra. “Dia….di…a..a” “Jawab pertanyaan aku Sa, dia siapa? Kenapa kalian begitu bermesraan? Kalian pacaran?” Tanya Farhan lagi. Keadaan semakin memanas ketika wanita itu menjambak rambut Sasa, Farhan langsung menarik Sasa kedalam pelukannya. Putra hanya diam tak berbicara sama sekali. Tanpa sepengetahuan Sasa, Putra adalah playboy cap miwon ia juga sudah menjalin ikatan tunangan dengan wanita itu. Semua mata pengunjung di café memusatkan pandangannya ke 4 anak manusia ini.Farhan berfikiran untuk cepat-cepat meninggalkan tempat ini sebelum keamanan café mengusirnya. Didekapnya Sasa, Farhan mengerti perasaan Sasa saat ini.
“Aku benar-benar gak nyangka kamu jahat sama aku, selingkuh sama wanita lain dibelakang aku. Mulai hari ini aku bukan siapa-siapa kamu lagi!” Jelas wanita yang menjambak rambut Sasa.
“Tapi, aku bisa jelaskan. Ratih… Ratih”. Teriak Putra sambil mengejar Ratih.
Farhan membawa Sasa ke sebuah taman, yang tak asing bagi mereka. Taman Bintang, “Sa, aku ingin mendengar penjelasan dari kamu mulai dari kamu susah aku hubungi. Skype, twitter semua gak ada yang kamu bales. Tau kan Sa, gimana rasanya jadi aku kalau kamu benar-benar melakukan hal itu semua?” Sasa hanya diam seribu bahasa, pikirannya kemana-mana. ‘Tega sekali aku mengkhianati dirinya yang setia menunggu aku, oh Farhan kamu terlalu baik untukku’ batin Sasa. Cukup lama Farhan menunggu penjelasan dari Sasa dibawah gemerlap bintang, dercikan air danau terdengar mengalun dan udara yang semakin dingin ditambah belaian halus dari angin malam sampai masuk ke pori-porinya. Sasa mulai menceritakan dari kedekatan dengan Putra hingga menjalin hubungan pacaran. Berbagai pertanyaan Farhan berikan membuat Sasa makin terpojok dan tak tau bagaimana untuk selanjutnya. Semua sudah terlambat dan sudah terjadi. Terlihat wajah kecewa dan marah dari wajah Farhan, tetapi mencoba meyakinkan diri agar tetap tenang. Tidak terbawa emosi yang membara dipikirannya.
“Aku gak nyangka aja kamu melakukan semua itu Sa, kepercayaan yang aku beri untuk kamu, kamu tak bisa menjaganya. Jujur aku sangat kecewa Sa. Disini, didalam sini. Ini terasa sakit dan sesak Sa.”Ujar Farhan sambil memegang dadanya. “Aku benar-benar menyesal An. Aku gagal dalam menjaga kepercayaan yang kamu berikan ke aku. Aku benar-benar menyesal, sekarang aku terserah kamu aja. Semua keputusan kamu akan aku terima. ” Jawabnya dengan isakan tangis. Farhan terdiam untuk beberapa menit, ia menarik nafas panjang dan “Mungkin saat ini kita harus intropeksi diri sendiri, apa kesalahan kamu dan kesalahanku. Mungkin ini terlalu berat untuk aku dan kamu tetapi ini semoga menjadi yang terbaik untuk kita, maafkan aku kita break sampai disini.” Farhan tak berani menatap mata Sasa, pasti saat ini Sasa terpukul sekali. Kali ini Sasa benar-benar merasakan apa yang Farhan rasakan ‘Bagaimana kalau aku diposisi dia, apakah aku sanggup setegar dan setenang dia menghadapi aku yang sudah mengkhianatinya. Aku benar-benar menyia-nyiakan orang yang menyayangi aku dengan kelembutan dan ketenangannya. Bodoh kau Sa!’ batin Sasa merutuki kesalahannya sendiri.
Dengan berjalannya waktu, kini sudah 1 tahun ia sendiri. Ia merasakan apa sebenarnya makna rindu, yang dirasakan Farhan ketika di Australia selama bertahun-tahun. Malam ini, Sasa memang sudah berjanji dengan Farhan untuk bertemu di café sekitaran blok M. Tempat itu adalah café pertama mereka kencan dan membuat kekacauan. Dengan keberanian bercampur perasaan gugup sedang menyelimuti Sasa sekarang, sebelumnya ia baru sekali mengalami perasaan yang tak menentu ketika Farhan mengungkapkan rasa cintanya kepada Sasa 4 tahun yang lalu. Tanpa sepengetahuan Sasa, Farhan sudah merencanakan sesuatu yang akan membuat Sasa terkejut dan tak bisa melupakan hal ini. Ini adalah rahasia Farhan dan teman dekat Sasa. Sudah lama, Sasa tak berkumpul kembali bersama sahabat-sahabatnya setelah Sasa dekat dengan Putra dan sampai sekarang mereka belum bertemu kembali. Harum bunga mawar tercium dari sudut ruangan yang sudah khusus didesain oleh pemesan ruangan itu. Ruangan yang lengkap dengan layar dan proyektor serta alunan lagu instrumental Ballade Pour Adeline milik Richard Clayderman. Tak lupa ia tambahkan bunga mawar putih yang tersebar disetiap sudut ruangannya, ia tahu bahwa Sasa sangat menyukai mawar putih. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, waktu yang sudah ditentukan keduanya untuk bertemu di café ini. Sasa datang dengan memakai baju panjang casual dan celana panjang jeans memakai sepatu kets biasa. Simple. Sebelumnya ia sudah diberitahukan oleh petugas café letak ruangan yang sudah disiapkan khusus untuk para tamu eksekutif. Kenok pintu perlahan ia buka dan mulai memasuki ruangan. Baru 3 langkah, lampu ruangan menjadi gelap, kerlap-kerlip dari bintang mulai terpancar di langit-langit dan dinding ruangan itu. Hanya satu cahaya yang terlihat dari sebuah layar proyektor 2x3 meter, isi dari tampilannya terdapat foto-foto mereka berdua ketika masih SMA, foto mereka yang sedang bergaya ala anak-anak alay, disaat pernyataan cintanya di SMA, serta sehari-hari mereka bersama jelas tampil dilayar itu. Sasa terpana melihatnya, kaget dan terharu yang ia rasakan saat ini, otaknya memaksa ia untuk mengingat kembali kejadian-kejadian masa lalu bersama Farhan. Tak terasa butiran air mata mendarat tepat dipipi mulusnya, seketika itu lampu menyala kembali. Sesosok pria sedang duduk dikursi yang telah disediakan. Ia melihat sekeliling ruangan itu ‘Oh Tuhan, mawar putih. Ia masih ingat aku menyukai mawar putih’ batin Sasa. Farhan berhasil membuat Sasa terkagum-kagum, selain tenang Farhan adalah seorang pria yang romantis. Aku mendekatinya, memeluk erat tubuh dan hanya ucapan terimakasihlah yang keluar dari mulutku. Malam ini aku tersadar akan besarnya cinta dan ketulusan darinya kepadaku, tapi disamping itu, cintanya kepada sang Pencipta lebih besar dibanding cintanya kepadaku. Tanpanya aku dan dia tak akan bisa bertemu. Sebuah drama, dimana aku adalah pemeran utama didrama itu bertemu sesosok pangeran yang mencintai dan menyayangiku dengan tulus. Betapa bodohnya diriku telah melukai perasaannya, terimakasih Tuhan. Aku tak boleh menyia-nyiakan dirinya dan mengambil keputusan dalam satu pihak dengan kata PUTUS.
Aku tersadar ketika pasangan lain yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun kandas begitu saja tanpa adanya alasan yang jelas. Apakah mereka tak berfikir betapa indahnya masa-masa dulu ketika mereka saling mencintai dan menyayangi? Masa-masa indah yang sudah mereka ukir dalam hidupnya, bercanda, tertawa, menangis bersama, saling memperlihatkan kesalah tingkahnya terhadap satu sama lain? Saling mengucap kata I LOVE YOU, semua kandas begitu saja dalam satu waktu?. Oh Tuhan, aku tak sanggup bila mengingat masa indah dan pahit bersamanya. Aku belajar banyak darinya, kasih sayang tulusnya, komitmen dan kepercayaan yang dia berikan kepadaku. Jaga dia untukku Tuhan, aku menyanyanginya.
Ya inilah kisah seorang anak manusia yang sejatinya mencari cinta yang tak henti-hentinya, jodoh memang tak kemana. Semua itu hanya urusan Tuhan sajalah dan kembalilah kepada sang Pencipta dan dengan waktulah yang mempertemukan mereka lagi.
TAMAAAAAAAT!








